Blog

Dikenal sebagai pekerja keras dan perempuan tangguh, Prof Dr Dyah Sawitri SE MM kembali dipercaya menjadi rektor Universitas Gajayana (Uniga) Malang. Sebagai orang nomor satu di kampus, banyak tantangan dan masalah yang harus dihadapi. Bagaimana  perempuan asal Trenggalek ini membagi waktu  sebagai rektor, istri, sekaligus ibu tiga anak?

ARLITA ULYA KUSUMA

Senyum bahagia terpancar dari wajah Prof Dr Dyah Sawitri SE MM usai mengikuti prosesi pelantikannya sebagai rektor Uniga Kamis lalu (20/2) di aula Utama Uniga. Bersama suami dan ketiga anaknya, perempuan yang akrab disapa Prof Dyah ini menyempatkan diri bisa mengambil foto bersama keluarga.

Ini menjadi pelantikan untuk kali kedua bagi Prof Dyah sebagai rektor Uniga. Sebelumnya, dia menjabat rektor tahun 2015 lalu, menggantikan rektor lama Dr Rosidi SE MM Ak yang kini menjabat ketua Yayasan Pendidikan Gajayana. Sosoknya kembali dipercaya melanjutkan tugasnya menjadi rektor periode 2020–2025 pada pekan lalu.

Dalam pemaparannya, Prof Dyah akan melanjutkan mimpinya menjadikan Uniga sebagai kampus yang terdepan dan  berkarakter. ”Mulai dari scienceknowledgeknow-howand skill,” terang dia.

Sedangkan untuk mewujudkan universitas yang berkarakter, ini tidak lepas dalam proses pembelajaran yang dijalankan. Karena itu, seluruh civitas academica harus mempunyai attitude dan behavior atau sikap dan perilaku, kepribadian, moral, serta etika yang baik.

Semua itu adalah kerangka kualifikasi nasional Indonesia yang dicerminkan dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012. ”Namun kalau di kami, ada namanya senyum salam, sapa, smart, santun, dan jujur,” terang dia. Itu yang selalu ditekankan selama proses pendidikan yang dilakukan di Uniga selama ini.

Menurut Prof Dyah, menjadi rektor Uniga untuk dua periode diakui  bukan perkara gampang. Ada banyak tantangan yang sudah menanti istri Prof Dr Ir Moh Saleh MM tersebut.

”Tuntutan perguruan tinggi semakin sulit karena standar yang ditentukan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  (BAN-PT) untuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) itu sama,” tambahnya. Namun, itu tidak dianggapnya sebagai sebuah kendala, tapi peluang dan kekuatan yang harus dicapai oleh Uniga.

Ibu tiga anak perempuan ini mengatakan, kesibukannya di kampus memang menyita waktu. Karirnya dimulai dari dosen Fakultas Ekonomi dan Program Magister Manajemen Uniga, Dyah juga pernah menjabat direktur Program Pascasarjana Magister Manajemen Uniga. Karena kesibukannya itu, dia harus pandai-pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Meski terkadang harus mengorbankan waktu untuk berkumpul keluarga, tapi yang terpenting baginya adalah menjalani pekerjaan dengan ikhlas. ”Jika berpedoman seperti itu, saya meyakini semua pasti akan dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah. Meski disibukkan dengan pekerjaan sebagai rektor. Namun, keluarga tetap menjadi yang nomor  satu,” tambahnya.

Selain karena tanggung jawabnya sebagai istri sekaligus ibu, alasan lainnya adalah karena dia menganggap keluarga merupakan pendukung nomor satu baginya, terutama menyangkut karir. ”Karena kalau tidak ada dukungan dari keluarga ya nonsense,” terang dia.

Tetap memprioritaskan keluarga, itu terlihat dengan komunikasi yang selalu dibangun bersama keluarga meski sekadar melalui gadget. Budaya komunikasi itulah yang sejak dulu dia tanamkan kepada tiga anaknya, yakni Rizky Amalia, Rahajeng Anugrahing Saldianovitta, dan Ine Rahmadania Saldianovitta.

Jabatan apa pun itu, kata dia, sebagai seorang perempuan dan istri, dalam keluarga suami tetap menjadi nomor satu. Dengan selalu meletakkan keluarga di urutan pertama, Dyah yakin segala urusan lain seperti pekerjaan akan dipermudah. ”Karena rida Allah ya di situ (keluarga),” tutur dia.

Selain menjaga komunikasi, budaya kerja keras juga ditanamkan kepada anak-anaknya. Ini terlihat dengan ketiganya yang sukses berkarir di bidangnya masing-masing. Anak pertamanya sekarang menjadi dosen di Politeknik Negeri Malang (Polinema), putri keduanya berprofesi sebagai dokter yang saat ini sedang menempuh pendidikan spesialis mata.

Sedangkan putri ketiganya baru saja lulus sarjana di Wollongong University di Sidney Australia. Sembari menunggu untuk melanjutkan S-2, putrinya tetap ingin produktif dengan membuka bisnis dekorasi. ”Karena dari kami kan masing-masing sibuk ya, jadi kalau sudah berkumpul di rumah  benar-benar dimanfaatkan dengan baik,” paparnya.

Selain harus kerja keras, mereka juga tetap tekun beribadah dan menjaga budaya bersih selalu ditanamkan kepada ketiga anak-anaknya. Bukan untuk memburu duniawi, tapi hal itu menurutnya sudah menjadi ketentuan bahwa kerja keras dan ibadah harus selalu beriringan. Apa yang ditanamkan tersebut akhirnya berbuah komitmen dan bukti kerja keras yang telah dilakukan oleh ketiga anaknya dalam mengejar karirnya.

Selain itu, antara dia, suami, dan ketiga anaknya selalu memberikan support satu sama lain dalam segala hal yang sedang dijalani. Salah satunya ditunjukkan dengan kehadiran mereka pada acara pelantikan yang dilakukan di aula Utama Uniga Kamis lalu (20/2).

Sumber: https://radarmalang.id/kerja-keras-dan-ibadah-harus-seiring-utamakan-keluarga/