Blog

Sebanyak 442 mahasiswa Universitas Gajayana (UNIGA) Malang dikukuhkan sebagai wisudawan dan wisudawati pada prosesi wisuda di Gedung Aula Utama UNIGA, Sabtu (7/12) lalu. Dari jumlah tersebut 259 mahasiswa terdiri dari program sarjana, sedangkan 183 lainnya program pascasarjana.

Pada kesempatan istimewa tersebut, Rektor UNIGA Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. berpesan pada para wisudawan dan wisudawati agar bersiap menyesuaikan diri dengan tantangan dunia kerja. Para Wisudawan harus bisa mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang telah didapat selama menempuh kuliah di UNIGA.

Wisuda merupakan titik awal bagi saudara untuk memasuki tahap baru dalam mengimplementasikan ilmu dan teknologi yang telah didapatkan selama masa kuliah ke dalam ranah profesi. Dunia kerja maupun dunia usaha”, ujar Prof Dyah kepada seluruh wisudawan dan wisudawati.

Menurutnya, dunia sesungguhnya yang dihadapi setelah wisuda merupakan tantangan kehidupan yang harus dilalui dengan bersungguh-sungguh. baik itu dunia kerja, dunia usaha, semua harus dilalui dengan semangat melalui bekas yang telah didapat di perguruan tinggi.

“Dunia nyata yang saudara masuki akan menguji kompetensi yang saudara miliki. Dunia nyata tidak sekedar hanya terpaku pada gelar-gelar akademik yang disandang seseorang, tetapi lebih dari itu,” tandasnya.

Lulusan UNIGA yang diwisuda berasal dari tiga fakultas. Wisuda UNIGA berlangsung semarak sekaligus khidmat. Selain karena prosesinya yang diiringi oleh pertunjukan tari budaya Ponorogo, wisuda kali ini UNIGA memberikan apresiasi kepada salah seorang wamahsiswa karena mampu berjuang menyelesaikan tesisnya meskipun sedang jatuh saikit.

“Hari ini kita melihat bagaimana perjuangan luar biasa dari seorang Bapak Mochamad Yasin, yang meskipun sedang sakit tapi mampu merampungkan pendidikan pascasarjananya dengan baik sepenuh hari, kata dia”

Mohammad Yasin merupakan mahasiswa program Pascasarjana yang juga seorang anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Komisi B Bidang Keuangan dan Ekonomi. Ketika wisuda ia harus menggunakan bantuan oksigen dan kursi roda. “Sakitnya komplikasi, tapi memang sejak awal komitmen ingin menyelesaikan kuliah saya.” kata pria 50 tahun ini.

Sumber: Koran Malang Post