Blog

TIMESINDONESIA, MALANG – Ujian Tengah Semester (UTS) di perguruan tinggi biasanya membuat mahasiswa tegang. Namun, tidak untuk mahasiswa Universitas Gajayana atau Uniga Malang.

Pasalnya, seluruh mahasiswa yang tergabung di prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Uniga Malang diwajibkan mengenakan kostum yang out of the box.

Mahasiswa-Uniga-2.jpg

Kebijakan ini bukan inisiatif mahasiswa. Tapi menjadi aturan prodi yang ditandatangani oleh Kapodi Ilmu Komunikasi.

Begini bunyi pemberitahuan tersebut:

Terkait pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Tahun Akademik 2019/2020 berikut kami sampaikan beberapa ketentuan, yaitu:

1. Ujian Tengah Semester (UTS) dilaksanakan tanggal 11 Nopember – 14 Nopember 2019

2. Jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) sesuai dengan jadwal kuliah

3. Tempat duduk ujian sesuai dengan NIM mahasiswa bersangkutan

4. Dresscode UTS mengambil tema “OUT OF THE BOX”

5. Bagi peserta yang hadir setelah 15 menit dimulainya ujian, maka peserta tersebut tidak diperkenankan mengikuti ujian. Kesempatan

ujian bagi peserta terlambat hadir diberikan setelah sesi ujian mata kuliah bersangkutan selesai.

Demikian informasi ini untuk diketahui.

Pengumuman ditandatangani langsung oleh Kapodi Ilmu Komunikasi Eko Budi S., S.S., M.I.Kom.

Kepada TIMES Indonesia, Eko membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, aturan yang diambil itu untuk membangun kreativitas mahasiswa.

Mahasiswa-Uniga-3.jpg

“Kami mencoba bagaimana merawat temen-temen mahasiswa supaya berkesan selama kuliah di kampus ini. Ide ini muncul bukan sekedar tampil, kita hadir untuk memberikan nilai atau pesan moral,” ujarnya.

Langkah ini diambil, katanya, untuk menciptakan suasana ujian yang santai tapi bernilai. Artinya, mahasiswa diberikan kebebasan berekspresi sesuai kreativitas masing-masing.

“Biar gak tegang pas ujian. Tapi tetap serius. Mereka tetap memegang nilai etika dan estetika,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Muhammad Asnan. Ide ini digagas melalui kajian. Kata Asnan, mahasiswa adalah generasi milenial sehingga pihak kampus juga tidak terlalu kaku terhadap peraturan.

“Sebab itu, muncul lah ide ini. Kita gak bisa seperti yang dulu lagi,” ungkapnya.

Asnan menginginkan suasana yang dimunculkan saat ujian tidak lagi terkesan kaku dan angker.

“Padahal enggak. Biasa-biasa aja. Secara psikologis juga berpengaruh lho. Kadang, ide itu bisa muncul kalau suasananya cair,” pungkasnya.

Selain itu, pihak kampus berharap mahasiswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Mereka sepakat untuk menelorkan ide-ide gila yang menjunjung tinggi kreativitas dan inovasi.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang sedang mengikuti ujian mengaku senang dan sepakat mengikuti aturan tersebut. Mereka menilai hal ini perlu dilakukan karena merupakan sesuatu yang unik dan langka terjadi di lingkungan kampus.

“Bagus sih. Aku pakai sorban dan gamis ini dari rumah. Berangkat seperti ini ke kampus. Senang bisa berpakaian bebas selama UTS di kampus. Bisa uji mental kepedean kita juga,” ujar Gus Muhdor, mahasiswa semester satu asal Malang itu.

Selain Gus Muhdor, Natalia Albine pun mengaku tidak keberatan. Bahkan untuk menyiapkan kostum, dia rela membuat busana khas Dayak untuk dikenakan saat ujian.

“Aku pakai baju Dayak ini karena aku orang Dayak. Cuma sekitar 50 ribu buat kostum kayak gini. Setiap hari ganti kostum, terserah kreativitas kita kok,” beber mahasiswi berkacama itu.

Aturan unik yang mewajibkan mahasiswa Uniga Malang khususnya Prodi Ilmu Komunikasi ini berlangsung selama empat hari.Mahasiswa bebas memilih kostum yang dinilai out of the box untuk dikenakan saat UTS di kampus. (*)

Sumber Berita: https://www.timesindonesia.co.id/read/238939/20191112/171802/unik-mahasiswa-uniga-malang-pakai-kostum-nyeleneh-saat-uts/